1.
"Apa? Iya, aku meletakannya di tempat biasa dekat dengan kotak vitamin. Aku tahu ini sudah malam."
Helena melangkahkan kaki kurusnya cepat-cepat. Tangan kananya memegangi ponsel. Dia masih kesal dengan supir taksi yang malah tersasar saat mengantarnya. Akhirnya dia hanya mau turun di jalan depan kompleks perumahan tempatnya bekerja.
Pukul sepuluh malam dan perutnya sejak tadi sudah terasa lapar. Pikirannya melayang-layang nikmatnya bakmi goreng hangat. Tidak! Dia hanya ingin segera cepat rumah. Tergesa-gesa melangkahkan kakinya semakin cepat.
Ponselnya sejak tadi terus berdering keras. Dia membiarkannya saja dan terus melangkah mengayunkan tas kecilnya masuki kawasan perumahan elit. Deretan perumahan mewah berpagar tinggi berdiri gagah disekitarnya. Helena selalu kagum jika berjalan di sekitar kawasan ini.
Tangannya memencet bel. Dia berdiri menunggu orang membuka pagar. "Siapa ya?" Seseorang keluar dari pintu. Helena melambai. "Aku."
Umi membuka pagar dengan tergesa-gesa setelah tahu itu Helena. Wajahnya nampak senang melihat siapa yang datang. Apalagi dia terus menelepon Helena sepanjang hari ini. "Oma sudah tidur, Um?" Asistan rumah tangga majikannya itu mengangguk. "Sudah, Sus."
Helena mengayunkan tas jinjing hitamnya melewati teras. Melepas flat-shoes hitam miliknya. Lalu melangkah masuk ke dalam setelah memakai sendal rumah berkepala boneka kelinci yang tersedia di rak. Majikanya khusus membelikan sendal berkepala singa untuknya. Helena langsung menyukainya.
Lampu sudah dimatikan, berganti cahaya lampu yang lebih remang-remang. Matanya melongok jam dinding di ruang tamu. "Pantas saja, pukul 11:30 malam."
Dengusnya kesal. Umi masuk setelah selesai mengunci pintu. Wajahnya tampak menunduk. "Kenapa kamu?" Helena senderan di sofa. Menyelonjorkan kakinya yang pegal.
"Aku tidak bermaksud menelponmu, Sus. Hanya saja oma terus menanyakanmu. Setiap detik beliau bertanya kapan Helena pulang ya?"
"Eh, Umi. Tadi oma sudah meminum vitaminnya?"
Umi mengangguk pelan. "Termasuk jus seperti biasanya?" Kali ini menggeleng. "Saya tidak tahu isi jusnya apa saja, Sus."
"Sudahlah tidak apa-apa. Kamu tidur saja." Umi mengangguk patuh.
Ponsel Helena berdering. Sudah pusing ditambah kacau karena Helena tidak menemukan ponselnya. Dia mengaduk-aduk tas hitamnya karena ponselnya berdering lagi. Satu deringan saja sudah membuatnya pusing.
Apalagi saat ini dia berada di dalam rumah majikannya yang sudah sunyi.
Kumohon berhentilah!
Nama Om Aji tertera di layar ponselnya. Pastilah banyak pertanyaan yang harus dijawab jika ada telepon darinya. Namun, jika tidak diangkat? Lebih parah lagi. Bisa jadi dia langsung menelepon majikannya untuk minta bertemu dengannya. Galau. Aiss.. Helena menggeser tombol hijau ke tengah.
"Iya, aku tadi sedang dalam perjalanan jadi tidak bisa menerima panggilan. Memang aku sedikit terlambat pulang karena supir taksinya tersasar sedikit. Percayalah aku baik-baik saja. Dan hasilnya sudah jelas dari suaraku kan om? Aku mengerti. Baiklah aku akan langsung tidur. Salam untuk Tante."
Bibirnya nerocos sebelum om-nya sempat mengucapkan sepatah katapun. Om Aji mengakhiri pembicaraan dengan ucapan selamat malam. Helena menarik napas dalam. Menghembuskanya dengan tiupan yang panjang.
"Semuanya pasti baik-baik saja." Kakinya berjingkat menaiki anak tangga. Kamarnya sendiri ada di lantai dua. Pikirannya hanya cuci muka dan tidur. Badannya sudah terlalu lelah untuk mandi. Untuk membuka knop pintu saja sudah lemas. Dia sudah menguap beberapa kali dalam sepuluh menit belakangan. Wajahnya sudah pucat.
"Helena-"
Helena berteriak karena kaget bukan main. Seseorang menepuk pundaknya
Selasa, 19 Juli 2016
Winter Snow
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar